Tampilkan postingan dengan label kammi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kammi. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 November 2010

Urgensi Pers dalam Dakwah Islam

Oleh: banana (4) corporation

“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirtkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mereka adalah orang-orang yang beruntung” Ali Imron 104

Pers dengan segala yang melingkupinya telah memiliki pengaruh yang besar dalam mengarahkan umat dan bangsa. Perkembangan pesat di dunia pers telah menjadikan negara informasi (syiar) sebagai babak akhir dari perkembangan sekian banyak model negara di dunia. Mulai dari negara politik, negara ekonomi dan pada akhirnya kini kita mengarungi era negara informasi dan pemikiran.

Karenanya kita harus bersungguh-sungguh untuk menerobos medan tersebut serta menyiapakan para pakar dan para spesialis di bidang tersebut. Para aktivis seharusnya memanfaatkan bidang pers ini untuk kepentingan dakwah dan menyebarkan prinsip-prinsip Islam dengan cara yang lurus. Islam merupakan agama fitrah yang memiliki kekuatan besar bila disampaikan melalui sarana pers.
Yang perlu diingat, para aktivis Islam yang menerjuni bidang ini harus tunduk dengan aturan dan adab-adab Islam. Dengan begitu pers Islam akan terhindar dari berbagai dosa dan pelanggaran.

Wartawan muslim teladan

Adalah wartawan yang komitmen pada adab-adab Islam. Memilih berita yang benar dan menyuguhkannya tanpa mengurangi atau melebih-lebihkan. Ia harus memberikan kritik yang konstruktif, menghindari kritik yang merusak, berani mengatakan yang haq walaupun terasa pahit, tanpa menjilat atau takut, mengatakan buruk pada orang yang berbuat jahat dengan bahasa yang tidak terkesan emosional dan dapat diterima umum.
Wartawan muslim harus pandai mengaitkan persoalan dan berita yang ditulis dengan dakwah agar manusia menegtahui bahwa agama Islam itu mencakup segala bidang kehidupan. Islam memiliki peran sebagai pengarah, penentu hukum dan pemberi solusi dalam setiap bidang tersebut.

Wartawan muslim harus waspada dengan hal-hal yang disebarkan oleh musuh Allah dan para kaki tangannya untuk mendeskritkan Islam atau harokah Islam. Ia harus membongkar kebohongan mereka serta menyuguhkan ajaran Islam dengan cara yang baik.

Lembaga Kewartawanan Islam Teladaan

Lembaga kewartawanan Islam harus memberikan bakti kepada dakwah Islam dan perjuangan Islam. Lembaga kewartawanan harus menyadari tanggungjawabnya kepada Allah, ia tidak menyuguhkan kecuali yang bermanfaat. Juga bertangggungjawab perihal pemahaman dan persepsi masyarakat. Karenanya, jangan sampai menyajikan sesautupun yang menyimpang atau mengandung unsur kerusakan seperti yang kita lihat pada kebanyakan koran dan majalah saaat ini.

Ia harus mengangkat masalah-masalah dunia Islam dan menyajikannya dengan cantik agar kaum muslimin dapat mengetahui persoalan yang dihadapi saudaranya di penjuru dunia dan ikut serta merasakan penderitaan dan harapan mereka.
Ia harus memberitakan medan-medan perjuangan Islam, pergerakan Islam dan jihad islami serta hal-hal yang sengaja ditutup-tutupi dengan gambaran buruk oleh pers nasional atau intrenasional seperti pada saat ini.

Penenrbit Islam Teladan

Penerbit Islam yang kita inginkan adalah yang berperan aktif mewujudkan tujuan-tujuan perjuanagn Islam, dengan menyajikan Islam yg benar, memperingtakan berbagai penyimpangan dan memerapi penyakit social yang ada di masyarakat dnegan obat isalam yang bersumber dari Al-Qur’an dan sunah.

Kita menginginkan penenrbit yang mengedepankan kemaslahatan dakwah, yang selektif dalam menerbitkan buku yang tak akan menerbitkan sebuah buku pun sehingga yakin pada kejujuran penulis terhadap akan hal-hal yang kontra dengan Islam dalam tulisannya., bukan sekedar mencari keuntungan materi.

Penulis Muslim Teladan

Penulis muslim yang diinginkan adalah yang pandai memilih tema yang bermanfaat dan mendukung dakwah Islam. Teliti dalam membahas tema dan menyajikannya dengan bahasa yang baik dan jelas agar maknanya sampai ke hati dan akal, serta menimbulkan pengaruh yang diharapkan.

Penulis muslim harus komitmen dengan pemahaman Islam yang benar, jauh dari keparsailan, penyimpangan dan kekliruan dalam setiap tulisannya. Dan menyadari besarnya dosa yang harus dipikul dari sekian banayk pembaca yang terpengaruh dengan pemahaman yang salah dalam setiap tulisannya.
Kita menginginkan agar penulis muslim memanfaatkan bidang pers sehingga tak ada satupun bidang pers yang tidak kita kembangkan dan kita manfaatkan setelah diwarnai dengan pelangi Islam.

Referensi:
Kitabullah
Fiqh Dakwah JIlid 2, Syaikh Mushthafa Masyhur
Penyesatan Opini, Adrian Husaini
Fikih Jurnalistik, Faris Khoirul Anam

Minggu, 31 Oktober 2010

Intelektual Profetik pada Pribadi Muslim Negarawan

Masa depan adalah harapan. Abad baru menjadi sebuah fenomena tersendiri bagi manuver-manuver dalam pergerakan mahasiswa. Tak ayal, banyak pula politisi-politisi ataupun pengamat pergerakan mahasiswa dewasa ini sering mengatakan ”Gerakan mahasiswa di abad ini seperti ’tidak ada gregetnya’.” Fenomena nomaden, sebuah fenomena bagi pergerakan mahasiswa yang senantiasa melakukan perubahan paradigma. Ini menjadi sebuah statement yang terlontar dalam suasana haru biru di tengah-tengah krisisnya budaya intelektual mahasiswa. Tentu saja fenomena ini banyak yang mengatakan, ini adalah fenomena yang dinamis. Langkah baik untuk menyesuaikan diri sesuai alur zaman, namun tetap saja banyak pertentangan disana-sini terhadap dimensi perubahan paradigma tersebut.

Regulasi paradigma KAMMI inilah yang sangat fenomenal sehingga banyak orang bergunjing tentang makna dan hakikat dari perubahan pola pikir ini. Senantiasa abadilah pemikiran mahasiswa. Mungkin perlu lebih dari sekedar makna untuk mengerti ataupun paham dari esensi berubahnya paradigma ini. Apa saja yang menjadi dasar atau landasan berpijak para idealis di atas, sebagai penentu langkah kebijakan arah pergerakan KAMMI masa depan. Tentunya bukanlah sebuah langkah mudah untuk membuat kebijakan semudah ketika membuat lawan ”mati langkah” dalam pertarungan catur. Ada kajian dan analisa tersendiri bagi idealis-idealis diatas ketika membuka wacana berpikir baru ini. Ada pengamatan ataupun analisa tajam terhadap permasalahan umat/rakyat dalam kondisi dewasa ini. Mengingat derasnya arus pemikiran barat dan fenomena asing yang tentu saja tidak sangat sesuai dengan budaya bangsa kita.

Mengingat berkembangnya dengan pesat teknologi komunikasi di abad ini.
Untuk itulah hadir Intelektual Profetik, sebagai pencerahan berpikir dan berpijak kader-kader KAMMI untuk mencapai masyarakat islami di tengah-tengah hegemoni pemikiran ’western’. Tidak hanya sekedar merubah hakikat istilah paradigma, tetapi bagaimana kader paham dan mengerti tentang hakikat dakwah moderat untuk masa depan. Penyesuaian langkah demi langkah, memberikan arus pemikiran yang tajam, kritikan dan solusi terbaik bagi permasalahan-permasalahan umat. KAMMI sekarang bukanlah KAMMI yang seperti dulu, KAMMI sekarang adalah KAMMI yang lebih mengedepankan akal, naluri, kepekaan, inetelektual sebagai alat berpijak, sedangkan Aksi (Demonstrasi) hanyalah bagian kecil yang tetap melekat sebagai senjata penekan kezaliman.

Hadirnya Muslim Negarawan adalah sebuah paradigma berpikir yang tak asing lagi sering kita dengar. Pengejawantahan Intelektual Profetik dalam ruh baru untuk mencetak kader-kader yang siap akan dijadikan ’director of change/pemimpin perubahan’ bukan lagi sebagai agent of change, tetapi lebih dari itu adalah sebuah pemimpi yang siap akan diterjunkan menjadi pemimpin masa depan. Merekalah nantinya yang akan di ’vermak’ untuk memperbaiki tatanan/struktur pemerintahan, hukum, politik, sosial budaya, pertahanan keamanan dan lain sebagainya berdasarkan nuansa yang islami. Merekalah nantinya yang akan merubah peradaban manusia Indonesia kini dan masa lalu menjadi sebuah peradaban islami dengan intektual yang islami. Men-simbiotik-kan Ad-Diin dengan Intelektual, menghancurkan peradaban sekuler, materialistis dan sosialis.

Merekalah yang KAMMI sebut nantinya sebagai MUSLIM NEGARAWAN. Aktor-aktor masa depan yang siap memimpin bangsa dengan berpegang teguh pada Al-Quran dan Sunnah Rasul.
(Syafaat_Ilmi)

Intelektual Profetik pada Pribadi Muslim Negarawan

Masa depan adalah harapan. Abad baru menjadi sebuah fenomena tersendiri bagi manuver-manuver dalam pergerakan mahasiswa. Tak ayal, banyak pula politisi-politisi ataupun pengamat pergerakan mahasiswa dewasa ini sering mengatakan ”Gerakan mahasiswa di abad ini seperti ’tidak ada gregetnya’.” Fenomena nomaden, sebuah fenomena bagi pergerakan mahasiswa yang senantiasa melakukan perubahan paradigma. Ini menjadi sebuah statement yang terlontar dalam suasana haru biru di tengah-tengah krisisnya budaya intelektual mahasiswa. Tentu saja fenomena ini banyak yang mengatakan, ini adalah fenomena yang dinamis. Langkah baik untuk menyesuaikan diri sesuai alur zaman, namun tetap saja banyak pertentangan disana-sini terhadap dimensi perubahan paradigma tersebut.

Regulasi paradigma KAMMI inilah yang sangat fenomenal sehingga banyak orang bergunjing tentang makna dan hakikat dari perubahan pola pikir ini. Senantiasa abadilah pemikiran mahasiswa. Mungkin perlu lebih dari sekedar makna untuk mengerti ataupun paham dari esensi berubahnya paradigma ini. Apa saja yang menjadi dasar atau landasan berpijak para idealis di atas, sebagai penentu langkah kebijakan arah pergerakan KAMMI masa depan. Tentunya bukanlah sebuah langkah mudah untuk membuat kebijakan semudah ketika membuat lawan ”mati langkah” dalam pertarungan catur. Ada kajian dan analisa tersendiri bagi idealis-idealis diatas ketika membuka wacana berpikir baru ini. Ada pengamatan ataupun analisa tajam terhadap permasalahan umat/rakyat dalam kondisi dewasa ini. Mengingat derasnya arus pemikiran barat dan fenomena asing yang tentu saja tidak sangat sesuai dengan budaya bangsa kita.

Mengingat berkembangnya dengan pesat teknologi komunikasi di abad ini.
Untuk itulah hadir Intelektual Profetik, sebagai pencerahan berpikir dan berpijak kader-kader KAMMI untuk mencapai masyarakat islami di tengah-tengah hegemoni pemikiran ’western’. Tidak hanya sekedar merubah hakikat istilah paradigma, tetapi bagaimana kader paham dan mengerti tentang hakikat dakwah moderat untuk masa depan. Penyesuaian langkah demi langkah, memberikan arus pemikiran yang tajam, kritikan dan solusi terbaik bagi permasalahan-permasalahan umat. KAMMI sekarang bukanlah KAMMI yang seperti dulu, KAMMI sekarang adalah KAMMI yang lebih mengedepankan akal, naluri, kepekaan, inetelektual sebagai alat berpijak, sedangkan Aksi (Demonstrasi) hanyalah bagian kecil yang tetap melekat sebagai senjata penekan kezaliman.

Hadirnya Muslim Negarawan adalah sebuah paradigma berpikir yang tak asing lagi sering kita dengar. Pengejawantahan Intelektual Profetik dalam ruh baru untuk mencetak kader-kader yang siap akan dijadikan ’director of change/pemimpin perubahan’ bukan lagi sebagai agent of change, tetapi lebih dari itu adalah sebuah pemimpi yang siap akan diterjunkan menjadi pemimpin masa depan. Merekalah nantinya yang akan di ’vermak’ untuk memperbaiki tatanan/struktur pemerintahan, hukum, politik, sosial budaya, pertahanan keamanan dan lain sebagainya berdasarkan nuansa yang islami. Merekalah nantinya yang akan merubah peradaban manusia Indonesia kini dan masa lalu menjadi sebuah peradaban islami dengan intektual yang islami. Men-simbiotik-kan Ad-Diin dengan Intelektual, menghancurkan peradaban sekuler, materialistis dan sosialis.

Merekalah yang KAMMI sebut nantinya sebagai MUSLIM NEGARAWAN. Aktor-aktor masa depan yang siap memimpin bangsa dengan berpegang teguh pada Al-Quran dan Sunnah Rasul.
(Syafaat_Ilmi)

Rabu, 25 Agustus 2010

Mengambil Bekal dari Al-Qur’an

Oleh: (Aiya_lintang)

“Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang bisa menahannya, dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak ada seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Fathir: 2)

Allah lah sumber segala kebaikan. Kaena karuniaNya-lah Ia menunjukkan pada kita sarana dan faktor yang dapat kita jadikan sebagai jalan untuk memperoleh bekal dariNya. Sarana yang paling banyak nmelimpahkan berkah adalah kitab Allah. Ia bersumber dari mata air yang tak pernah kering dari bekalan. Di dalamnya kita temukan cahaya, petunjuk, rahmat dan peringatan.

Di dalam Al-Quran kita dapat menemukan segala kebaikan yang dibutuhkan manusia untuk mewujudkan kebahaagiaan dunia akhirat, serta memelihara dari kesengsaraan hidup.
“Hai manusia sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman (Yunus 57)

Dari Jahiliyah ke jaman Islam
Andai kita bertanya, siapa yang memperbaharui dan merubah semenanjung Arab dari kungkungan jahiliyah dengan segenap kerusakan dan kesesatannya menuju sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia, jawabannya adalah Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi. Kemudian orang yang beriman kepadanya ditarbiyah oleh Rosul, maka Al Qur’an dapat merubah hidup mereka dan lahirlah figur-figur teladan yang menjadi pilar utama dalam tegaknya agama Islam. Melalui merekalah terjadi ekspansi Islam ke berbagai penjuru, sehingga cahaya Islam menggusur kegelapan Jahiliyah yang menyelimuti dunia.

Al-quran yang dihadapan kita sekarang, tetap seperti dulu, tanpa ada perubahan, sebab Allah sendiri yang memeliharanya. “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Al-Hijr: 9)

Pertanyaan selanjutnya yang mungkin muncul adalah: Apakah kita dapat melakukan perubahan dan memunculkan figure teladan seperti mereka? Jawabannya adalah BISA, asalkan kita mau berinteraksi dengan kitab Allah dan sunah rosulnya dengan cara seperti yang diterapkan oleh kaum muslimin generasi pertama. Mereka mengagungkan Al-Quran ketika mendengar atau membacanya, sebab ia adalah kalam Allah. Mereka dapat menangkap karunia kasih saying Allah terhadap mahluknya melalui huruf-huruf yang dapat dimengerti manusia. Mereka mendengarkan penuh konsentrasi, mentadaburi, memahaminya dengan meninggalkan segala hal yang dapat menghalanggi pemahaman, mereka terkesan dengan segala yang terkandung didalamnya baik nasihat, pelajaran, ancaman atau kabar gembira. Setiap kali mendengar seruan “wahai oarng yang beriman”, mereka memperhatikan dengan serius dan konsentrasi penuh terhadap arahan yang akan disampaikan setelah seruan itu, lalu mereka menerima dan melaksanakannya dengan teliti, penyerahan diri secara mutlak dan keridhoan penuh, tanpa ragu, menunda nunda atau memilah milih. Sebab itu bukan seruan manusia tetapi seruan Allah yang menciptakan manusai dan menguasai segala sesuatu.

Begitulah interaksi mereka dengan AL-Quran, mereka yakin bahwa nabi Muhammad tidak berbiocara berdasarkan nafsu melainkan berdasarkan wahyu yang disampaikan kepadanya.
“apa yang diberika Rosul kepadamu maka terimalah dia, dan pula yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah (Al-Hasyr :7).

Adapun kaum muslimin saat ini, mereka mewarisi Islam tanpa susah payah, mereka mewarisinya secara parsial atau dibalut dengan bid’ah dan khufarat, mereka mewarisi kulinya saja, sedangkan isi dan semangatnya telah hilang, mereka mewarisinya dalam keadaan lemah dan malas, mereka tidak merasakan indahnya kalam Allah, mereka disibukkan dengan lagu-lagu dan kemerduan saura pembacanya.

Teladan yang mungkin terulang
Allah menghendaki agar kebaikan tetap berada di tengah umat nabi Muhammad sampai hari kiamat. Kini kita mendapati figur-figur teladan itu kembali tampak di berbagai bidang kehidupan. Dalam jihad dan pengorbanan dan rindu kesyahidan. Nampak ditengah-tengah manusia bebagai teladan yang mengagumkan dalam merealisasikan ajarn Islam. Mereka dipercaya karena kejujuran, kesetiaan terhadap janji, amanah dan kemualiaan akhlaknya. Mereka sabar menghadapi gangguan, dan siksaan dari musuh-musuh Allah. Teteap istiqomah dalam keyakinannya hingga Allah mengambil sebagian dari mereka sebagai syuhada.
“ mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak pula menyerah (kepada musuh). Dan Allah menyukai orang-orang yang sabar. (Ali Imron: 146)
Telah nyata lah pengaruh Al-Qur’an pada diri manusia. Andaikan orang yang membaca Al-Qur’an menghargai Allah dengan sebenar-benarnya penghargaan tentu akan terpengaruh demngan Al-Quran dan bergetarlah kulitnya saat membaca atau didengarkannya Al-Qur’an,
“kalau sekiranya Kami menurunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamua kan melihatnya tunduk terpecsah belah disebabkan rasa takut kepada Allah. Dan perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir. (Al-Hasyr :21).

Andai kita memmperbaiki hubungan dengan satu ayat saja dari Al-Qur’an, tentu pengaruhnya akan mengalir dan menggerakkan perasaan serta menyinari hati seperti arus listrik ketika dinyalakan.

Al-Qur’an mengajari dan membimbing manusia bagaimana seharusnya seorang mukmin menghadapi dan mensikapi berbagai kondisi sehingga dapat meniti jalan keimanan dalam setiap perkataan dan perbuatan kita. Kita berlindung pada Alla saat mendapat kefakiran, tertimpa penyakit, mendapat kesulitan dan ketika bertemu musuh. Al-Qur’an menjelaskan hal tersebut dalm ayat-ayatnya,
“Ya Tuhanku sesungguhnya aku snagat memerlukan suatu kebaikan yang engkau turunkan kepadaku” (Al-Qashash: 24).

“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nus (Yunus), ketia ia pergi dalm keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mmepersempitnya, maka ia menyeru dalam keadaan sangat gelap; “bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang dzalim.’ Maka kami telah memperkenankan doa nya dan menyelamatkannya dari pada kedudukan. Dan demikianlah kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (al-Anbiya: 87-88)

Seorang aktivis dakwah dapat menemukan sebaik-baik perjalanan dalam Al-Qur’an. Sebab ia dapat memgetahui cara dakwah yang benar melalui lisan rosul, ia dapat mengetahui bagaimana kesabaran mereka dalam mengajak kaumnya pada keimanan, dan keteguhan mereka dalam menjauhkan kaumnya dari kekafiran.

Bacaan dan hafalan merupakan sebaik-baik bekal yang dapat membantu aktivis dakwah memperkuat pembicaraaanya mengenai tema tertentu dengan ayat-ayat Al-Qur’an, seingga pembicaraannya akan lebih terkesan di jiwa pendengarnya.

Rosul bersabda dalam hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, “Bacalah Al-Qur’an selama hatimu akrab padanya dan kulitmu lembut padanya. Bila kamju berselisih maka kamu bukanlah orang yang membacanya.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Maka bila kamu berselisih, bagkitlah dari (membaca)nya.”

Waspadalah jangan sampai disibukkan oleh makhraj huruf dan hokum-hukum bacaan dari mentadhaburi dan memahami AL-Qur’an, sehingga seluruh perhatian tertuju kepadanya tanpa pengaruh dan kepahaman terhadap maknanya.
Mari membaca Al-Qur’an dengan rutin sehingga bekal kita selalu baru. Mari kita menghafal ayat-ayatnya semampu kita, sebab ia dapat membantu kita melakukan qiyamul lail dan memperkuat materi dakwah.
“dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (AL-Qomar: 17)
Wallohu A’lam



Referensi:
Kitabullah
Fiqh Dakwah JIlid 2, Syaikh Mushthafa Masyhur

Selasa, 03 Agustus 2010

SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA

keluarga besar KAMMI KOMISARIAT MIPA UNDIP mengucapkan selamat menunaikan Ibadah Puasa, semoga kita mencapai derajat Muttaqin

Minggu, 04 Juli 2010

Menuju Gerakan Profetik

Gegap gempita kemajuan ilmu pengetahuan sedikit demi sedikit mulai menyingkap ayat-ayat Tuhan di alam semesta, mulai mikro kosmos hingga makro kosmos. Di penghujung milenium ketiga, tiga revolusi ilmu pengetahuan telah membawa perubahan signifikan dalam kehidupan manusia; konsep relativitas, rekayasa kuantum, dan biologi molekular.

Kemajuan ilmu pengetahuan tidak serta merta membawa kebahagiaan pada umat manusia. Penyelewengan sosial-ekonomi ilmu pengetahuan dan teknologi telah menjungkirbalikan nilai manfaat itu. Maka, perlu kiranya kita merenungkan kembali hakikat dari ilmu pengetahuan sebelum semakin tersesat dalam arus kapitalisme global.

Menuju Gerakan Intelektual Profetik

Kini, umat Islam dihadapkan dengan idealitas yang jauh dari realitas, ilmu hanya ramai di ruang-ruang diskusi, kajian, dan seminar.
Gerakan Islam telah gagal menjadikan ilmu-ilmu Islam sebagai sarana untuk memperbaiki kondisi umat Islam. Kita hanya menyerahkan perkembangan sejarah umat kepada ilmu-ilmu normatif. Ilmu-ilmu sosial yang kita kembangkan hanya membuat orang terasing dengan dirinya.

Tradisi normatif, tradisi idealogis, dan tradisi ilmiah adalah tiga tradisi keilmuan yang mesti diberi perhatian. Komitmen tradisi normatif ialah dakwah, komitmen tradisi idealogis ialah politik, dan komitmen tradisi ilmiah ialah ilmu. Paradigma baru itu harus mempunyai komitmen baru, yaitu bersifat ummatik (masyarakat dan bangsa). Paradigma baru itu akan kita sebut Ilmu Sosial Profetik (kenabian).

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah…” (Surah Ali Imran : 110)

Ada tiga unsur yang harus dipahami dalam ilmu sosial profetik berdasarkan ayat tersebut. Pertama, humanisasi (amal ma’ruf). Humanisasi bertujuan untuk menjadikan manusia sebagai manusia sesuai fitrahnya, karena saat ini manusia mengalami dehumanisasi akibat indistrialisasi dan globalisasi ekonomi. Kedua, Liberasi/pembebasan (nahyi munkar). Pembebasan umat dari penindasan dan kekejaman tirani ekonomi politik, kengakuhan teknologi, dan pembelengguan pikiran. Ketiga, transendensi (tu’minuna billah). Mendamaikan hubungan manusia dengan Tuhan. Rekonstruksi pemikiran gerakan Islam berdasarkan ilmu sosial profetik akan melahirkan sebuah gerakan intelektual.

Memaksimalkan Potensi Intelektual Muda

Arus kapitalisme global dan perang pemikiran telah membuat mahasiswa yang bersifat pragmatis. Mereka berlomba-lomba menyelesaikan masa studinya. Sementara itu jiwanya ringkih akibat tidak tertempa oleh kepekaan dan aktivitas sosial. Kita dihadapkan pada sosok generasi yang masa bodoh terhadap permasalahan bangsanya.
Maka, harapan munculnya genarasi muda yang progresif akan lahir dari aktivis mahasiswa yang bergelut di organisasi kemahasiswaan. Namun, apakah harapan ini terlihat besar mengingat kaum muda terdidik tersebut mulai terjebak dan tenggelam dalam lingkungan yang membuatnya pragmatistik?

Pada sisi lain sebagian aktivis mahasiswa tersebut terjebak dalam oportunisme. Ketika pesona ekonomi-politik telah mengalahkan idealismenya. Pada hal lain lagi para aktivis ini diserang virus keputusasaan dalam perjuangan melihat realitas yang jauh dari idealisme mereka.

Inilah alamat kematian bagi yang masih hidup, ketika gairah dan progresifitas meredup. Maka, harapan munculnya genarasi muda yang progresif akan lahir dari aktivis mahasiswa yang bergelut di organisasi kemahasiswaan.
Mengembalikan progresifitas kaum muda harus dimulai dari sarang potensial tempat mereka berkumpul, yaitu kampus. Organisasi/gerakan mahasiswa Islam harus mampu membaca zaman untuk mengembalikan tradisi intelektual yang membawa misi profetik (kenabian). Kaum intelektual menggunakan ilmunya untuk melakukan kritik sosial. Loyalitas tertinggi intelektual adalah untuk masa depan umat (rakyat,bangsa) , tidak pada elit kekuasaan dan bisnis.

Untuk mendobrak kebekuan gerakan intelektual kaum muda, maka perlu dilakukan pembongkaran. Ada dua hal yang harus dilakukan dalam pelaksanaan pembongkaran tersebut.

Pertama, pembongkaran teologis. Perlu dilakukan perubahan paradigma berpikir mahasiswa. Selama ini kesalehan hanya dipersepsikan sebagai ketundukan kepada Tuhan melalui serangkaian ibadah ritual. Kesalehan ‘langit’ seperti ini tidak relevan jika digunakan untuk perubahan sosial masyarakat. Maka perlu ditambahkan lagi teologi dan kesalehan yang diarahkan ke ‘bumi’. Bukankah salah satu misi manusia adalah menjadi khalifah untuk melestarikan dan memakmurkan bumi. Iman dan amal saleh merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.

Kedua, aksi sosial. Konsekuensi dari teologi yang berorientasi sosial adalah adanya keterlibatan yang total dalam perjuangan dan aktivitas sosial. Sebab pembongkaran di wilayah teologis saja tidaklah cukup. Di sana juga dibutuhkan tingginya kadar konsistensi dan ketabahan dalam berjuang melawan tatanan sosial yang timpang.
Kini sinergi antar keduanya, pembaruan teologi dan aktivisme sosial, juga perlu dimiliki oleh kaum muda untuk mengatasi krisis integritas, keloyoan dalam berjuang, dan menggejalanya pragmatisme.

PARADIGMA KAMMI BAGI SCIENTIST TENTANG KEMAJUAN BANGSA

Kemajuan Bangsa Indonesia merupakan salah satu Tugas bagi para pemuda khususnya pemuda Intelektual yakni mahasiswa, sudah tidak dipungkiri lagi bahwa pemuda telah menorehkan tinta emas bagi perkembangan bangsa Indonesia mulai dari kebangkitan nasional, sampai runtuhnya orde baru pun mahasiswa turut mengambil peranan penting dalam suatu perubahan, apalagi peranan mahasiswa muslim Indonesia, peran mahasiswa muslim merupakan tulang punggung bagi pergerakan mahasiswa, layaknya tulang punggung apabila tulang punggung itu rusak organ tubuh yang lain pun akan rusak,seperti halnya pergerakan mahasiswa, tanpa adanya mahasiswa muslim yang bergerak, pergerakan akan tidak terasa.

Dimana peran para calon scientist muslim yang ada di Indonesia???

Sungguh beruntung kita ditakdirkan untuk terjun kedalam dunia Research, karena mahasiswa Muslim di fakultas MIPA adalah salah satu bagian konstruksi peradaban, yang akan membangun Indonesia ke depan. Seperti dalam point ke-2 paradigma gerakan KAMMI yaitu : Gerakan Intelektual Profetik. Maksud dari intelektual profetik adalah mengedepan bidang keahlian denagn berdasarkan nilai-nilai yang ada seperti Al-Qur’an dan Al-Hadist, jadi sudah tidak menjadi alasan bagi para moslem scientist untuk tidak bergerak khususnya bagi para kader KAMMI, karena KAMMI pun mendukung bidang keilmuan yang ada, so buang jauh-jauh kalau KAMMI hanya berkutat pada gerakan social dan politik saja!!.

Bercermin pada para scientist yang dulu telah membangun peradaban Islam dengan disiplin ilmu masing-masing, contohnya adalah : Jabir ibn Hayyan yang disebut sebagai bapak kimia se dunia siapa yang tidak kenal dia??? Seorang muslim yang tangguh dan seorang scientist yang cerdas,dan masih banyak lagi scientist muslim yanga ada. Tapi bukan berarti kita sebagai para scientist melupakan bahkan apatis terhadap masalah social yang ada, seharusnya para moslem scientist muda di Indonesia beruntung bisa berada pada era keterbukaan, lain halnya dengan para moslem scientist di jepang mereka tidak bisa menyalurkan aspirasinya, dalam hal ini terbatas karena system politiknya tidaki memungkinkan, tetapi mereka tidak diam begitu saja, mereka melakukan apa yang mereka bisa dengan menyalurkan inovasi-inovasi mereka ke masyarakat sekitar sehingga berhasil memecahkan masalah yang ada, lalu bagaimana dengan kita??? Yang sudah berada pada era keterbukaan, masih mau untuk menutup diri untuk tidak merubah bangsa???lakukan apa yang kita bisa untuk melakukan suatu perubahan melauli disiplin ilmu masing-masing
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal
(QS:Al-imran;190)